Pemerintah
Daging Sapi/Ayam/Ikan Di Pasar Wates dan Beringharjo Bebas Formalin PDF Cetak Email
Kamis, 29 Desember 2011 14:45

Daging Sapi/Ayam/Ikan Di Pasar Wates dan Beringharjo Bebas Formalin

Tim Pemantau melakukan uji sampel daging yang dijual di Pasar Wates KulonprogoYOGYAKARTA (29/12/2011) pemda diy-go.id – Masyarakat tidak perlu kuwatir dengan kualitas daging sapi, ayam dan ikan yang ada di pasaran khususnya di pasar tradisional Wates (Kabupaten Kulonprpogo) dan pasar besar Beringharjo (Kota Yogyakarta). Daging di dua pasar tersebut dari hasil pantauan Tim Ekonomi Pemerintah Provinsi DIY hasilnya bagus, layak dikonsumsi masyarakat dan bebas dari zat-zat berbahaya (formalin).

Kegiatan pemantauan di berbagai pasar tradisional di DIY ini rutin dilakukan oleh Tim ekonomi Pemerintah Provinsi DIY, setiap menjelang lebaran, natal dan tahun baru. Hal tersebut disamping untuk memberikan rasa aman bagi masyarakat yang merayakannya, juga untuk menjaga kualitas dan mengetahui persediaan kebutuhan pokok yang ada di tingkat distributor, sekaligus untuk mengetahui tingkat kenaikan harga.

“Daging sapi maupun ayam serta ikan dapat dikatakan bagus selain tidak mengandung zat-zat yang membahayakan bagi kesehatan manusia juga kadar airnya standar yaitu 5 - 6 PHnya. Dan dari pantauan di dua pasar tadi hasilnya menggembirakan,” ujar Ketua Tim Pemantauan Drs. Sultoni Nur Rivai, MSi disela-sela pemantauan di Pasar Besar Beringharjo, Yogyakarta, Kamis (29/12).

Lebih lanjut Ketua Tim Pemantau yang juga Kepala Bagian Administrasi Kebijakan dan Produktifitas, Biro Perekonomian dan SDA Setdaprov DIY Sulthoni mengutarakan, sampai hari ini dari hasil pantauan harga-harga bahan pokok termasuk daging, tetap terkendali meski ada kenaikan harga khusus sembako berkisar Rp. 100 hingga Rp.500,-. Untuk harga daging sapi kata dia berkisar Rp.60 ribu,- hingga Rp. 65 ribu, daging ayam berkisar Rp. 22 ribu hingga Rp. 24 ribu per kilogramnya.

Sementara yang mengalami kenaikan cukup tinggi di dua pasar tradisional tersebut adalah cabe, yaitu berkisar Rp.10 ribu sampai dengan Rp.15 ribu per kilo gram, gula pasir kualitas baik Rp.10 ribu, kualitas medium Rp.9.500, sedang gula Jawa Rp.12 ribu. Beras Mentik seminggu lalu Rp.7.800, saat ini menjadi Rp.8.700, beras Ir 2 semula hanya Rp.6.500 saat ini Rp.7.600. Telur semula Rp.13 ribu menjadi Rp.15ribu, namun untuk terigu dan minyak goreng harganya relatif stabil.

“Kami menhimbau kepada masyarakat untuk tidak perlu menimbun sembako di rumah, karena stok bahan pangan di pasaran maupun di tingkat distributor masih cukup untuk 2 bulan kedepan,” tandas Sultoni.

Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Kesmafet Dinas Pertanian Provinsi DIY drh. Haris Handono beserta anggota Tim Pemantau lainnya seperti unsur Disperindagkop, Bulog, Bank Indonesia, Dinas Pertanian, Bidang Peternakan, Biro Perekonomian dan SDA, Dinas Kelautan dan Perikanan Intelpam Polda DIY dan lain-lain, memberikan apresiasi kepada Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang ada di DIY, yaitu di Giwangan yang telah mengeliminir daging tidak layak konsumsi beredar ke pasaran. Sehingga daging yang ada dipasaran memang daging yang sehat dan layak konsumsi, artinya daging-daging yang beredar memang daging yang berasal dari sapi yang sehat, tidak terkena penyakit.

“Untuk mengetahui daging sapi maupun ayam yang sehat dan aman dikonsumsi, cirinya warna daging merah cerah, kalau ditekan cepat kembali, di serat dalam daging tidak terdapat gumpalan-gumpalan darah yang berhenti, berbau daging segar, setelah dimasak tidak berwarna kehitam-hitaman dan daging disukai lalat. Kalau lalat tidak mau hinggap berarti daging tersebut berformalin,” terang Haris.

Salah satu pedagang daging ayam di Pasar Wates Suhartono, warga Tuksono, Sentolo, Kulonprogo mengatakan, perayaan hari raya seperti Natal dan Lebaran sebenarnya tidak begitu memicu kenaikan harga daging dipasaran, tetapi yang sangat mempengaruhi yaitu adanya musim hajadan masyarakat.
(krn/rsd)  

HUMAS



Sebarkan Artikel ini ke Social Network Favoritmu
 
 

Tambahkan Komentar


Security code
Refresh