Toilet, Tolok Ukur Sederhana Manajemen Museum

Tanggal Rilis :
Rabu, 17 Mei 2017
Penulis Artikel :
Sukarmi
Fotografer :
Karnos
Lokasi :
The Sahid Rich Hotel Yogyakarta

YOGYAKARTA (17/05/2017) jogjaprov.go.id – Aspek manajemen museum, salah satunya dapat dilihat dari kebersihan toiletnya. Apabila toilet suatu museum berbau menyengat, museum tersebut cenderung sepi pengunjung dan tidak dikelola dengan baik. Sebaliknya, apabila toiletnya bersih, maka dapat dipastikan pengelolaannya baik dan secara otomatis akan banyak pengunjung. Demikian salah satu pokok pikiran yang disampaikan oleh Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X, pada saat menjadi narasumber Pertemuan Nasional Museum, Rabu (17/5) pagi di Imperial Ballrom, Hotel Sahid Rich Yogyakarta.

 

Dalam paparannya, Sultan menyoroti perubahan karakter masyarakat ke arah modernisasi, yang kemudian dikaitkannya dengan aktivitas museum. Museum di era sekarang tidak boleh statis. Pengelola museum harus berbenah diri menjadikan museum lebih kekinian, atraktif, colorful, fun dan friendly. Bahkan dapat juga diintegrasikan dengan public facilities seperti kafe, ruang baca, atau fasilitas lain untuk sekedar mengobrol dan browsing. Sehingga, akan lebih menarik minat masyarakat untuk berkunjung ke museum.

 

Museum dan perpustakaan dikatakan sebagai proses pembelajaran anak bangsa. Museum hendaknya tidak sekedar sebagai wadah penyimpan barang-barang masa lalu, tetapi harus lebih dimaknai sebagai sumber sejarah dan ilmu pengetahuan. Ekstremnya, jangan sampai generasi kita menganggap benda-benda peninggalan yang ada di museum, hanya sebatas barang rongsokan.

 

Saat ini minat masyarakat Indonesia masih tergolong minim dalam hal mengunjungi museum. Hanya sekitar 2% dari total penduduk RI yang masuk ke museum. Ini berlawanan dengan yang terjadi di negara-negara asing, dimana penduduknya memandang museum penting untuk dikunjungi. Di DIY sendiri, pengunjung museum belum bisa disebut sebagai pustakawan. Mereka masih “paksawan” yang artinya masih dipaksa untuk mengunjungi museum dan belum atas kesadaran sendiri.

 

Di akhir paparannya, Sultan menyampaikan pesan sekaligus harapan, agar anak-anak muda DIY memiliki rasa empati terhadap sesamanya, terutama terhadap mereka yang kurang beruntung. Pembangunan moral dan integritas, dikatakannya sangat penting untuk dilaksanakan. Karena ketika berbicara tentang budaya, kita tidak hanya bicara tentang seni dan tradisi, tetapi juga tentang peradaban, integritas dan moralitas.

 

Pleno Sesi I Pertemuan Nasional Museum pada hari ini juga menghadirkan Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Dr. Hilmar Farid, sebagai narasumber yang memberikan paparan tentang regulasi museum. Sedangkan bertindak sebagai moderator adalah Ketua Badan Musyawarah Musea, Prof. Suratman. (rn)

 

TIM HUMAS DIY

KOMENTAR

Belum ada komentar dalam artikel ini

Anda Harus Login untuk memberikan komentar

LOGIN USER | DAFTAR BARU

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan Pemerintah Daerah DIY dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Pemerintah Daerah DIY akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

FILTER & PENCARIAN